Cara Menghapal Al-Qur'an dengan Mudah
Semangat, Cepat, Mudah Menghafal Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an memerlukan waktu
yang lama. Rasa malas, jenuh, dan bosan itu datang di tengah perjalanan.
Penting bagi kita untuk tetap bertahan dengan target dan jadwal yang
sudah kita buat sebelumnya. Kita harus memaksa diri untuk terus
menghafal karena kalau tidak maka cita-cita menghafal Al-Qur’an tidak
akan pernah terwujud.
Nah, bagaimanakah caranya agar semangat
kita untuk menghafal dapat tetap terjaga dan tidak mudah luntur.
Bagaimana pula kita mengelola kejenuhan, sehingga menjadi pendongkrak
agar kita melompat lebih tinggi dan berlari lebih cepat dalam menghafal?
Pertama: Ingat-ingatlah Kematian yang Pasti Datang
Sesungguhnya ingat mati itu membuat
hidup lebih hidup. Selagi masih hidup, maka kita berjuang untuk
melakukan yang terbaik, menabung sebanyak-banyak, mendepositokan waktu
yang kita punya untuk kebahagiaan kita juga. Tentunya kita ingin punya
investasi di akhirat sebagai tempat kembali kita yang kekal abadi.
Investasi terbaik itu adalah hafalan Al-Qur’an.
Sudah banyak sekali terbukti, ternyata
ingat mati itu dapat menjadi pendongkrak semangat yang loyo. Dahulu
Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan ahli fiqih setiap malam. Di
dalam pertemuan itu mereka saling mengingatkan tentang kematian, hari
kiamat, dan akhirat. Setelah itu mereka pun menangis. Perkumpulan itu
ternyata memberikan pengaruh besar dalam meningkatkan produktifitas
amal.
Ingatlah mati agar kita semangat menghafal kitab suci yang mulia ini.
Kedua, Mengingat Akhiat
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. menyatakan, yang artinya:
”Barangsiapa yang akhirat menjadi
tujuannya, maka Allah akan menjadikan hatinya selalu merasa puas dengan
apa yang diperolehnya. Dan Allah akan mengumpulkan segala urusannya yang
tercerai berai, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Adapun orang yang menjadikan dunia
menjadi tujuannya, maka Allah akan menjadikan kebutuhannya tidak pernah
tercukupi, Allah cerai-beraikan segala urusannya, sedang ia tidak akan
mendapatkan keduniaan melainkan apa yang telah ditakdirkan baginya.”
(HR. At-Tirmidzi)
Ketika tujuan awal dan akhir kita adalah
keridhaan Allah dan surga-Nya, maka Insya Allah, Allah yang membimbing
kita dan memberikan kesungguhan dalam menghafal.
Ketiga, Berdoa
Doa adalah sunnah para nabi dan penyebab datangnya berbagai kebaikan. Rasulullah SAW. bersabda,
أَعْجَزُالنَّاسِمَنَعَجُزَعَنِالدُّعَاءِ
“Manusia yang paling lemah adalah orang yang lemah dalam berdoa” (HR. Ibnu Hibban).
Maka, perbanyaklah doa kepada Allah agar
Dia berkenan memelihara kesungguhan kita; menjadikan kita tidak
menyingkap dari tujuan kita selama-lamanya, dan meneguhkan langkah kaki
kita.
Keempat, Berusaha Keras Memusatkan Perhatian Pada Hal-hal yang Penting dan Prioritas
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata,
“Apabila engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebenaran, maka engkau
akan disibukkan oleh kebatilan.”
Semakin kita menganggap penting sebuah
pekerjaan, maka akan semakin antusias dan semangat kita melakukannya.
Sebaliknya bila kita menganggap sebuah pekerjaan tak penting, dan kita
tidak memerlukannya, dan pada waktu yang sama kita diminta melakukan hal
itu, maka segalanya akan berjalan dengan berat hati.
Maka sibukkanlah diri dengan menghafal
Al-Qur’an. Fokuskanlah diri untuk menghafal Al-Qur’an. Ini sungguh
kegiatan yang sangat penting bagi kita dunia dan akhirat. Insya Allah
kesungguhan Anda akan meningkat, dan sekali-kali tidak akan berhenti,
sampai Anda menghafalnya dengan sempurna.
Kelima, Berpindah Dari Lingkungan yang Tidak Kondusif
Ada pengumpaan yang menarik. “Apabila
permata jatuh di tempat yang bernajis, maka diperlukan begitu banyak air
untuk membersihkannya. Jika kita menyiram air di atasnya saat permata
itu masih berada di tempat najis, maka tentu akan memerlukan banyak air
dengan hasil yang kurang. Namun jika kita mengeluarkannya terlebih
dahulu dari tempat najis itu, maka kita pun dapat membersihkannya dengan
mudah.”
Maka jauhkanlah dari segala hal yang
dapat melemahkan tekad. Apabila diri ini telah disibukkan oleh sesuatu
hingga melupakan Al-Qur’an, maka sedikit demi sedikit kita akan
melenceng dari tujuan, sampai akhirnya kita vakum sama sekali
Keenam, Berteman dengan Orang yang Memiliki Kesungguhan Tinggi
Cari-carilah teman penuh berkah yang
membuat kita bersemangat melakukan kebaikan. Bertemanlah dengan para
hafizh Al-Qur’an dan mereka yang memiliki kecintaan yang besar terhadap
Al-Qur’an. Rasulullah Saw. bersabda,
إنَّمِنَالنَّاسِمَفَاتِيْحَلِلْخَيْرِمَغَالِيْقَللِشَّرِّ
Ketujuh, Mintalah Nasehat Kepada Orang-orang Shaleh
Sesungguhnya kata-kata itu dapat menjadi
penyejuk jiwa dan pembangkit semangat. Mintalah kepada para guru maupun
orang tua kita untuk memberikan nasehat saat kita sedang tidak
bersemangat. Semoga dari kata-kata mereka Allah menyegarkan kembali
hati-hati kita untuk menghafal dan mempelajari kitab-Nya.
Kedelapan, Niatkan Menghafal Al-Qur’an Sebagai Bakti Kepada Kedua Orang Tua
Orang tua yang memilki anak yang hafal
Al-Qur’an, kelak di hari kiamat ia akan mendapatkan baju kebesaran dan
mahkota kehormatan dari Allah SWT. Sebagai anak, kita tentunya akan
sangat bahagia dan bangga apabila dapat mempersembahkan kemuliaan itu
kepada kedua orang tua kita karena kita termasuk penghafal Al-Qur’an.
Sepenuh jasa-jasa mereka tak akan pernah mampu kita balas. Dengan
menghafal Al-Qur’an, kita berharap semoga Allah memuliakan kedua orang
tua kita di dunia dan akhirat dan menyayangi mereka sebagaimana mereka
telah menyayangi kita di waktu kecil.










Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak